"Kupejamkan mataku terhadap semua kotoran, dan kukenakan pakaian sabar yang putih bersih. Kala masalah menghimpitku, aku berdoa kepada Allah, sejurus kemudian masalah itupun terbuka. Jalan-jalan itu tersumbat, tapi dengan berdoa ia terbuka dengan sendirinya"
Semua yang telah kita pelajari sejauh ini memperlihatkan kita akan satu kenyataan pasti: Al Qur'an adalah kitab yang di dalamnya berisi berita yang kesemuanya terbukti benar. Fakta-fakta ilmiah serta berita mengenai peristiwa masa depan, yang tak mungkin dapat diketahui di masa itu, dinyatakan dalam ayat-ayatnya. Mustahil informasi ini dapat diketahui dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi masa itu. Ini merupakan bukti nyata bahwa Al Qur'an bukanlah perkataan manusia.
Al Qur'an adalah kalam Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan. Dialah Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan dalam Al Qur'an "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (Al Qur'an, 4:82) Tidak hanya kitab ini bebas dari segala pertentangan, akan tetapi setiap penggal informasi yang dikandung Al Qur'an semakin mengungkapkan keajaiban kitab suci ini hari demi hari.
Apa yang menjadi kewajiban manusia adalah untuk berpegang teguh pada kitab suci yang Allah turunkan ini, dan menerimanya sebagai satu-satunya petunjuk hidup. Dalam salah satu ayat, Allah menyeru kita:
"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (Al Qur'an, 6:155)
Dalam beberapa ayat-Nya yang lain, Allah menegaskan:
"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." (Al Qur'an, 18:29)
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya." (Al Qur'an, 80:11-12)
”Sesungguhnya, bagi setiap kitab ada sari patinya dan sari pati kitab (Al-Qur’an) ini adalah huruf-huruf ejaannya.”
Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung berbagai petunjuk bagi umat manusia (Albaqarah [2]: 2, 185; Al-A’raf [7]: 203; Fushilat [41]: 44; Al-Isra [17]: 9) dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi (QS Albaqarah [2]: 30; Annaml [27]: 62; Fathir [35]: 39; Al-A’raf [7]: 129; dan Shaad [38]: 26), agar manusia tidak tersesat dan senantiasa berada di jalan yang lurus (Alfatihah [1]: 5; Azzumar [39]: 23; Asysyura [42]: 52; Al-An’am [6]: 153; Lukman [31]: 32; Almaidah [5]: 16).
Al-Qur’an juga merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW bagi umat manusia. Tak ada keraguan sedikit pun dalam Al-Qur’an (AlBaqarah [2]: 2, 23; Yunus [10]: 37; Hud [11]: 17, 110; Al-An’am [6]: 114; Assajdah [32]: 2). Dan, bagi yang ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an, Allah menantang mereka untuk mendatangkan beberapa surat atau ayat yang serupa dengan Al-Qur’an (Albaqarah [2]: 23). Dan, kendati mereka membawa sejumlah penolong (selain Allah), pastilah mereka tidak akan sanggup untuk membuatnya.
Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan. Di dalamnya dibahas berbagai hal, baik akidah, ibadah, akhlak, maupun ilmu pengetahuan lainnya, seperti fisika, kimia, biologi, astronomi, dan sebagainya. Andai manusia itu menulis sejumlah ilmu Allah, mereka tidak mampu menuliskannya. Karena, ilmu Allah sangat luas (Albaqarah [2]: 255; Almu’min [40]: 7; Almulk [67]: 1) dan tidak ada yang cacat sedikit pun (Al-Mulk [67]: 4). Bahkan, andaikan lautan atau samudra dijadikan tinta niscaya manusia tidak akan mampu menuliskannya kendati ditambahkan tujuh lautan lagi (Alkahfi [18]: 109, Luqman [31]: 27).
Karena itu, tak ada kitab suci yang serupa dengan Al-Qur’an. Bahkan, dalam hal bacaannya, gunung-gunung pun turut berguncang karena kebesaran dan kemukjizatannya. ”Dan, sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi menjadi terbelah atau oleh karena itu orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah itu hanya Al-Qur’an saja). Sebenarnya, segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Sesungguhnya, Allah tidak menyalahi janji.” (Arra’du [13]: 31).
Bahkan, kulit pun akan gemetar dengan bacaan Al-Qur’an karena takut kepada Allah (Azzumar [39]: 23). ”Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah. Dengan kitab itu, Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, barang siapa yang disesatkan Allah niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.”
Al-Qur’an adalah samudra ilmu. Ia tak akan pernah habis dibahas dan digali. Keistimewaan Al-Qur’an tak hanya dari kandungan isinya yang meliputi segala hal. Dalam gaya bahasa (uslub) atau gramatika (tata bahasa)-nya, Al-Qur’an juga memiliki kelebihan.
Bahkan, dalam bidang Ulum Al-Qur’an (ilmu-ilmu yang membahas Al-Qur’an), sudah banyak dibahas oleh para ulama dan sarjana masa lalu, termasuk pada sahabat Rasulullah SAW hingga ilmuwan masa kini, yang berupaya menggali kandungan isi Al-Qur’an. Ada yang mencoba mengelaborasi dan melakukan eksplorasi lewat perspektif keimanan, historis, bahasa dan sastra, pengkodifikasian, kemukjizatan, penafsiran, serta telaah kepada huruf-hurufnya.
Kondisi semacam itu bukan hanya merupakan artikulasi tanggung jawab seorang Muslim untuk memahami bahasa-bahasa agamanya. Namun, sudah berkembang kepada nuansa lain yang menitikberatkan pada studi yang bersifat ilmiah, yang memberikan kontribusi dalam perkembangan pemikiran dalam dunia Islam. Kalangan sarjana Barat banyak yang melibatkan diri dalam pengkajian Al-Qur’an dengan motivasi dan latar belakang kultural atau intelektual yang berbeda-beda.
Fawatih al-suwar Al-Qur’an, dari mana pun menggali dan memahaminya, ia selalu memberikan pemahaman yang sangat komprehensif dan menyeluruh. Baik kandungan isinya, jumlah surah, kombinasi ayat-ayatnya, maupun keseimbangan huruf-huruf Al-Qur’an, menunjukkan keistimewaan yang sangat mengagumkan antara ayat yang satu dan yang lain, mereka saling berkaitan.
Salah satu di antaranya adalah surah-surah yang dimulai dengan huruf inisial yang dikenal dengan nama ayat-ayat Fawatih al-Suwar (pembuka surah). Seperti surah yang dimulai dengan inisial huruf Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Tha Ha, Ha Mim, Shad, Qaf, Nun, Ya Sin, Tha Sin Mim, dan sebagainya.
Al-Qur’an yang terdiri atas 114 surat, yang diawali dengan beberapa macam pembukaan (Fawatih al-Suwar), di antara macam pembuka surah yang tetap aktual pembahasannya hingga sekarang ini adalah huruf muqaththa’ah. Surah-surah yang termasuk kategori ini dimulai dengan huruf inisial, seperti surah yang dimulai dengan huruf Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Tha Ha, Ha Mim, Shad, Qaf, Nun, Ya Sin, Tha Sin Mim, dan sebagainya.
Menurut sejumlah pakar matematika Islam, huruf-huruf yang terdiri atas huruf-huruf alfabet (hijaiyah) ini, selain mandiri, juga mengadung banyak kemisteriusan yang belum tergali secara optimal. Karena itu, ia sangat istimewa sebab hanya ditemukan pada surah-surah tertentu dan menggunakan inisial huruf tertentu pula.
Ibnu Abi Al-Asba’ dalam kitabnya Al-Khaqathir Al-Sawanih fi Asrar Al-Fawatih membagi beberapa kategori dari huruf-huruf inisial yang membuka surah tersebut. Pertama, pujian terhadap Allah SWT yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Kedua, yang menggunakan huruf-huruf hijaiyah terdapat pada 29 surah. Ketiga, dengan mempergunakan kata seru (ahrufun nida), terdapat dalam sepuluh surah. Lima seruan ditujukan kepada rasul secara khusus. Dan, lima yang lain ditujukan kepada umat. Keempat, kalimat berita (jumlah khabariyah) terdapat dalam 23 surah. Kelima, dalam bentuk sumpah (Al-Aqsam) terdapat dalam 15 surah.
Menurut As-Suyuti dalam Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, pembukaan-pembukaan surah (awail Al-suwar) atau huruf-huruf potongan (Al-huruf Al-Muqatta’ah) ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat. Karena itu, pengetahuan yang benar tentang ayat-ayat atau huruf-huruf tersebut hanya dimiliki Allah yang Maha Mengetahui. As-Suyuti memandang pendapat ini sebagai pendapat yang mukhtar (terpilih).
Ibnu Al-Munzir meriwayatkan bahwa ketika Al-Syabi ditanya tentang pembukaan-pembukaan surah, ia mengutip pendapat Ali bin Abi Thalib RA. Ia berkata, ”Sesungguhnya, bagi setiap kitab ada sari patinya dan sari pati kitab (Al-Qur’an) ini adalah huruf-huruf ejaannya.”
Hal yang sama juga diungkapkan Abu Bakar Al-Shiddiq RA. Menurut khalifah pertama ini, ”Pada setiap kitab, ada rahasia dan rahasianya dalam Al-Qur’an adalah permulaan-permulaan surahnya.”
Karena itu, hanya orang-orang berakal yang bisa mengambil pelajaran. Wa Allahu A’lam. sya/berbagai sumber
Demikianlah tafsir pada mulanya dinukil melalui penerimaan dari riwayat kemudian dibukukan sebagai salah satu bagian hadis selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka berlangsunglah proses kelahiran tafsir bil ma’tsur {tafsir berdasarkan riwayat} lalu diikuti oleh at-tafsir bir ra’yi {tafsir berdasarkan penalaran}.
Di samping ilmu tafsir lahir pula karangan yg berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yg berhubungan dgn Alquran dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufassir .
Ali bin al-Madini yg merupakan guru Bukhari menyusun karangan tentang asbaabun-nuzuul. Abul Ubaid al-Qasim bin Salam menulis Naasikh wal-Mansuukh dan Qira-at.
Ibnu Qutaibah menyusun tentang problematika quran {Musykilaatul Qur’an}. Mereka semua termasuk ulama abad ke-3 Hijriah.
Muhammad bin Khalaf bin Marzaban menyusun Al-Haawi wa-Uluumil Quraan.
Abu Muhammad bin Qasim al-Anbari juga menulis tentang ilmu-ilmu Alquran.
Abu Bakar as-Sijistani menyusun Ghariibul Qur’an.
Muhammad bin Ali al-Adfawi menyusun Al-Istighna’ fii ‘Uluumil Qur’an.
Mereka ini adl ulama-ulama abad ke-4 Hijriah.
Dan sesudah itu kegiatan karang-mengarang dalam ilmu Alquran terus berlangsung.
Abu Bakar al-Baqalani menyusun I’jaazul Qur’an dan Ali Ibrahim bin Said al-Hufi menulis I’rabul Qur’an. Al-Mawardi {wafat 450 H} mengenai tamsil-tamsil dalam Quran . Al-Izz bin Abdussalam tentang majaz dalam Alquran. Alamudin as-Sakhawi {wafat 643 H} menulis mengenai ilmu qiraat dan Aqsaamul quraan. Setiap penulis dalam karangannya itu menulis bidang dan pembahasan tertentu yg berhubungan dgn ilmu-ilmu Quran.
Syekh Muhammad Abdul Aziz az-Zarqani menyebutkan dalam kitabnya Manaahilul ‘Irfaan fii Uluumil Qura’an bahwa ia telah menemukan dalam perpustakaan Mesir sebuah kitab yg ditulis oleh Ali bin Said yg terkenal dgn Al-Hufi judulnya Al-Burhaan fii Uluumil Qura’an yg terdiri dari 30 jilid. Dari ke-30 jilid itu ada 15 jilid yg tidak tersusun dan tidak berurutan.
Pengarang membicarakan ayat-ayat Alquran menurut tertib mushaf. Dia membicarakan ilmu-ilmu Alquran yg terkandung ayat itu secara sendiri masing-masing diberi judul sendiri pula dan judul yg umum disebutkan dalam ayat dgn menuliskan alqaul fii qaulihi ‘Azza wa Jalla {pendapat mengenai firman Allah } lalu disebutnya ayat itu. Kemudian di bawah judul ini dicantumkan alqaul fii al-Ii’rab . Di bagian ini ia membicarakan ayat dari sisi nahwu dan bahasa. Selanjutnya al-qaul fil ma’na wat tafsiir . Di sini ia jelaskan ayat itu berdasarkan riwayat dan penalaran. Setelah itu al-qaul fil waqfi wal tamam . Di sini ia menjelaskan tentang waqaf yg diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.
Terkadang qira’at diletakkan dalam judul tersendiri yg disebutnya dgn al-qaul fil qira’at . Kadang ia berbicara tentang hukum-hukum yg diambil dari ayat ketika ayat dibacakan.
Dengan metode seperti ini Al-Hufi dianggap sebagai orang pertama yg membukukan ulumul qur’an meskipun pembukuannya memakai cara tertentu seperti disebutkan tadi. Ia wafat pada tahun 330 Hijriah.
Kemudian Ibnul Jauzi mengikutinya dgn menulis sebuah kitab berjudul Fununul Afnan fi Ajaa’ibi Uluumil Qur’an. Lalu tampil Badrudin az-Zarkasyi menulis sebuah kitab dgn judul Al-Burhan fi Uluumil Qur’an Jalaaludin al-Baqini memberikan tambahan atas Al-Burhan di dalam kitabnya Mawaaqi’ul Uluum min Maawaqi’in Nujum Jalaludin as-Suyuti juga kemudian menyusun kitab yg terkenal Al-Itqan fi Uluumil Qura’an.
Kepustakaan ilmu-ilmu Quran pada masa kebangkitan modern tidaklah lbh kecil daripada nasib ilmu-ilmu yg lain. Orang-orang yg menghubungkan diri dgn gerakan pemikiran Islam telah mengambil langkah yg positif dalam membahas kandungan Quran dgn metode baru pula seperti I’jaazul Qura’an yg ditulis oleh Mustafa Sadiq ar-Rafi’i kitab At-Taswiirul Fanni fil Qur’an dan Masyaahidul Qiyamah fil Qur’an oleh Sayyid Qutb Tarjamatul Qur’an oleh Syekh Mustafa al-Maraghi yg salah satu pembahasannya ditulis oleh Muhibuddin al-Khatib Mas’alatu Tarjaamatil Qur’an oleh Mustafa Sabri An-Naba’ul Azim oleh Dr. Muhammad Abdullah Daraz dan Mukadimah Tafsir Mahasinut Ta’wil oleh Jalaaludin al-Qasimi.
Syekh Tahir al-Jazairi menyusun sebuah kitab dgn judul At-Tibyaan fii Uluumil Qur’an. Syekh Muhammad Ali Salamah menulis pula Manhaajul Furqaan fii Uluumil Qur’an yg berisi pembahasan yg sudah ditentukan utk fakultas usuludin di Mesir dgn spesialisasi dakwah dan bimbingan masyarakat. Kemudian hal itu juga diikkuti oleh muridnya Muhammad Abdul Azim az-Zarqani yg menyusun Manaahilul ‘Irfaan fi Uluumil Quran. Kemudian Syekh Ahmad Ali menyusun Muzakkirat Uluumil Qur’an yg disampaikan kepada para mahasiswanya di fakultas usuludin jurusan dakwah dan bimbingan masyarakat. Akhirnya muncul Mabaahits fii Uluumil Qur’an oleh Dr. Subhi as-Shaleh.
Juga Ustad Ahmad Muhammad Jamal menulis beberapa studi sekitar masalah ma’idah dalam Quran.
Pembahasan-pembahasan tersebut dikenal dgn sebutan uluumul quran dan kata ini kini telah menjadi istilah atau nama khusus bagi ilmu-ilmu tersebut.
Kata ulum jamak dari kata ilmu. Ilmu berarti al-fahmu wal idrak {paham dan menguasai}. Kemudian arti kata ini berubah menjadi masalah-masalah yg beraneka ragam yg disusun secara ilmiah.
Jadi yg dimaksud dgn ulumul quran ialah ilmu yg membahas masalah-masalah yg berhubungan dgn Quran dari segi asbabunnuzul {sebab-sebab turunnya Quran} pengumpulan dan penertiban Quran pengetahuan tentang surah-surah Mekah dan Madinah an-nasikh wal-mansukh al-muhkam wal-mutasyaabih dan lain sebagainya yg berhubungan dgn Alquran.
Terkadang ilmu ini juga dinamakan usuulut tafsir krn yg dibahas berkaitan dgn beberapa masalah yg harus diketahui oleh seorang mufasir sebagai sandaran dalam menafsirkan Alquran.
Sumber Studi Ilmu-Ilmu Quran terjemahan dari Mabaahits fii ‘Uluumil Quraan Manna’ Khaliil al-Qattaan.
Mau Cepet Menghafal Al-Quran???? Coba yang ini deh.
Metode terbaik dalam menghafal al-qur’an ialah apa yang akan kami sebut kan. Metode ini memiliki keistimewaan khusus, yaitu hafalan yang mengakar kuat, di samping menghafal nya pun cepat, hingga kita dapat hafal AL-qur’an dalam waktu singkat, kami akan menjelaskan metode tadi dengan mengambil sample halaman pertama dari QS.Al-jumu’ah, caranya ialah sebagai berikut:
1.bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali 2.bacalah ayat ke dua sebanyak 20 kali 3.bacalah ayat ke tiga sebanyak 20 kali 4.bacalah ayat ke empat sebanyak 20 kali 5.bacalah KEEMPAT ayat tadi dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali, agar satu sama lai saling terkait. 6.bacalah ayat ke lima sebanyak 20 kali 7.bacalah ayat ke enam sebanyak 20 kali 8.bacalah ayat ke tujuh sebanyak 20 kali 9.bacalah ayat ke delapan sebanyak 20 kali 10.bacalah ayat KELIMA sampai KEDELAPAN sebanyak 20 kali, agar satu sama lain saling terkait. 11.bacalah ayat PERTAMA hingga ayat KEDELAPAN 20 kali, agar kita menguasai betul halaman iniDan terapkan selalu metode ini dalam menghafal tiap halaman hingga khatam Al-qur’an, dan jangan menghafal lebih dari seperdelapan juz {1/4 hizib} tiap harinya, agar target hapalan kita tidak terlalu banyak hingga akhirnya kocar kacir.
Bila kita ingin menghafal halaman berikut nya pada keesokan harinya, maka sebelum kita terapkan metode tadi, bacalah dahulu halaman kemarin dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali, agar hafalan kita betul betul mengakar kuat, Baru setelah itu kita mulai menghafal halaman baru dengan metode yang telah di jelaskan.
Sebagai seorang mukmin, kita tentunya berkeinginan untuk dapat menghafal Al-Quran dan setiap kita pasti memimpikan agar dapat melahirkan anak-anak yang hafal Al-Quran (hafidz/hafidzah). Berikut ini ada beberapa cara/kaidah dasar untuk memudahkan menghafal, di antaranya:
Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah Azza wa Jalla. Memperbaiki tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Quran hanya karena Allah Subhanahu wa Ta`ala serta untuk mendapatkan syurga dan keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sumah (ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan pelakunya kepada dosa.
Dorongan dari diri sendiri, bukan karena terpaksa. Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal Al-Quran. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan ketika membaca Al-Quran maka dia akan mendapatkannya.
Membenarkan ucapan dan bacaan.
Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan dari orang yang baik bacaan Al-Qurannya atau dari orang yang hafal Al-Quran. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri mengambil/belajar Al-Quran dari Jibril alaihis salam secara lisan. Setahun sekali pada bulan Ramadhan secara rutin Jibril alaihis salam menemui beliau untuk murajaah hafalan beliau.
Pada tahun Rasulullah shallallahualaihi wa sallam diwafatkan, Jibril menemui beliau sampai dua kali. Para shahabat radliallahu anhum juga belajar Al-Quran dari Rasulullah shallallahualaihi wa sallam secara lisan demikian pula generasi-generasi terbaik setelah mereka. Pada masa sekarang dapat dibantu dengan mendengarkan kaset-kaset murattal yang dibaca oleh qari yang baik dan bagus bacaannya. Wajib bagi penghafal Al-Quran untuk tidak menyandarkan kepada dirinya sendiri dalam hal bacaan Al-Quran dan tajwidnya.
Membuat target hafalan setiap hari. Misalnya menargetkan sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman, satu hizb, seperempat hizb atau bisa ditambah/dikurangi dari target tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi. Membaguskan hafalan.
Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan di hati. Dan yang demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan sepanjang siang dan malam. Menghafal dengan satu mushaf.
Hal ini dikarenakan manusia dapat menghafal dengan melihat sebagaimana bisa menghafal dengan mendengar. Dengan membaca/melihat akan terbekas dalam hati bentuk-bentuk ayat dan tempat-tempatnya dalam mushaf.
Bila orang yang menghafal Al-Quran itu merubah/mengganti mushaf yang biasa ia menghafal dengannya maka hafalannya pun akan berbeda-beda pula dan ini akan mempersulit dirinya.
Memahami adalah salah satu jalan untuk menghafal. Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk menghafal Al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. Oleh sebab itu seharusnyalah bagi penghafal Al-Quran untuk membaca tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus.
Ada beberapa kitab tafsir yang ringkas yang dapat ditelaah oleh pemula seperti kitab Zubdatut Tafsir oleh Asy-Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar. Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang seperti Tafsir Ibnu Katsier, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir As-Sadi dan Adhwaaul Bayaan oleh Asy-Syanqithi.wajib pula menghadirkan hatinya pada saat membaca Al-Quran.
Tidak pindah ke surat lain sebelum hafal benar surat yang sedang dihafalkan. Setelah sempurna satu surat dihafalkan, tidak sepantasnya berpindah ke surat lain kecuali setelah benar-benar sempurna hafalannya dan telah kokoh dalam dada. Selalu memperdengarkan hafalan (disimak oleh orang lain).
Orang yang menghafal Al-Quran tidak sepantasnya menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Tetapi wajib atasnya untuk memperdengarkan kepada seorang hafidz atau mencocokkannya dengan mushaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kesalahan dalam ucapan, atau syakal ataupun lupa.
Banyak sekali orang yang menghafal dengan hanya bersandar pada dirinya sendiri, sehingga terkadang ada yang salah/keliru dalam hafalannya tetapi tidak ada yang memperingatkan kesalahan tersebut. Selalu menjaga hafalan dengan murajaah. Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam : “Jagalah benar-benar Al-Quran ini, demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dari ikatannya.”
Maka seorang yang menghafal Al-Quran bila membiarkan hafalannya sebentar saja niscaya ia akan terlupakan. Oleh karena itu hendak hafalan Al-Quran terus diulang setiap harinya. Bila ternyata hafalan yang ada hilang dalam dada tidak sepantasnya mengatakan: “Aku lupa ayat (surat) ini atau ayat (surat) itu.” Akan tetapi hendaklah mengatakan: “Aku dilupakan,” karena Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda: (..arab..)
Bersungguh-sungguh dan memperhatikan ayat yang serupa. Khususnya yang serupa/hampir serupa dalam lafadz, maka wajib untuk memperhatikannya agar dapat hafal dengan baik dan tidak tercampur dengan surat lain. Mencatat ayat-ayat yang dibaca/dihafal.
Ada baiknya penghafal Al-Quran menulis ayat-ayat yang sedang dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan.
Berapa banyak penghafal Al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal satu atau beberapa surat dari Al-Quran tetapi giliran diminta untuk menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan dalam penulisannya. Memperhatikan usia yang baik untuk menghafal.
Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25 tahun. Wallahu alam dalam batasan usia tersebut. Namun yang jelas menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua. Pepatah mengatakan: Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.
HAL-HAL YANG DAPAT MENGHALANGI HAFALAN
Setelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal Al-Quran maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari penghalang-penghalang tersebut. Di antaranya:
Banyaknya dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Quran dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.
1. Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara terus-menerus. Tidak mau memperdengarkan (meminta orang lain untuk menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari Al-Quran kepada orang lain.
2. Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.
3. Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama. Kita mohon pada Allah Subhanahu wa Ta`ala semoga Dia mengkaruniakan dan memudahkan kita untuk menghafal kitab-Nya, mengamalkannya serta dapat membacanya di tengah malam dan di tepi siang. Wallahu alam bishawwab.
(Ummu Abdillah & Ummu Maryam, dinukil dari kutaib: “Kaifa Tataatstsar bil Quran wa Kaifa Tahfadzuhu?” oleh Abi Abdirrahman)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu`: "Orang yang tidak mempunyai hapalan al-Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mauh runtuh" (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu Abbas (2914), ia berkata: hadits ini hasan sahih).
Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang-orang yang mempunyai keahlian dalam membaca al-Quran dan menghapalnya, memberitahukan kedudukan mereka, serta mengedepankan mereka dibandingkan orang lain.
Dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan al-Quran mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hapalan al-Quran-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW : “Berapa banyak ayat al-Qur'an yang telah engkau hapal, hai fulan?” ia menjawab: aku telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah al-Baqarah. Rasulullah SAW kembali bertanya: “Apakah engkau hapal surah al-Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah SAW bersabda: “Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghapal surah al-Baqarah semata karena aku takut tidak dapat menjalankan isinya. Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda: “Pelajarilah al-Qur'an dan bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari al-Qur'an dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudia ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hapalan Al Quran— adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik" (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2879), dan lafazh itu darinya.
Jika tadi kedudukan pada saat hidup, maka saat mati-pun, Rasulullah SAW mendahulukan orang yang menghapal lebih banyak dari yang lainnya dalam kuburnya, seperti terjadi dalam mengurus syuhada perang Uhud. Rasulullah SAW mengutus kepada kabilah-kabilah; para penghapal al-Quran dari kalangan sahabat beliau, untuk mengajarkan mereka faridhah Islam dan akhlaknya, karena dengan hapalan mereka itu, mereka lebih mampu menjalankan tugas itu. Diantara sahabat itu adalah: tujuh puluh orang yang syahid dalam kejadian Bi`ru Ma`unah yang terkenal dalam sejarah. Mereka telah dikhianati oleh orang-orang musyrik.
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Penghapal al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian al-Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), al-Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah kemuliaan. Kemudian al-Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan"(Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2916), Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia menilainya hadits sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi (1/553).
Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghapal dan ahli al-Qur'an saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah al-Qur'an. Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca al-Qur'an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al- Qur'an”(Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilanya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (21872) dan Ad-Darimi dalam Sunannya (3257)
Kedua orang itu mendapatkan kemuliaan Tuhan, karena keduanya berjasa mengarahkan anaknya untuk menghapal dan mempelajari al-Quran semenjak kecil. Dan dalam hadits terdapat dorongan bagi para bapak dan ibu untuk mengarahkan anak-anak mereka untuk menghapal al-Quran semenjak kecil.
Ibnu Mas`ud berkata: “Rumah yang paling kosong dan lengang adalah rumah yang tidak mengandung sedikitpun bagian dari Kitab Allah SWT ”( Diriwayatkan oleh Al Hakim dari Ibnu Mas`ud secara Mauquf. Ia berkata: sebagian mereka memarfu`kannya, demikian juga dikatakan oleh Adz Dzahabi (1/566).
Dan pengertian kata “ashfaruha” adalah: yang paling kosong dari kebaikan dan berkah. Al-Munziri meriwayatkan dalam kitab At-Targhib wa At Tarhib dengan kata: “ashghar al buyut” dengan ghain bukan fa. Dan maknanya adalah: rumah yang paling hina kedudukannya, dan paling rendah nilainya.
SuaraMedia) “Luar biasa sekali!” Komentar itu dilontarkan ustad terkemuka Aa Gym dan Yusuf Mansyur saat menyaksikan 4 anak dari Jombang, Jawa Timur, menghafal Alquran 30 juz dan pelajaran sekolah dengan metode Hanifida. Kejeniusan Ahmad Azmi Amiq (12), Rofi’ul Majid (14), Kamila Niami Permatasari (5,5), dan Putri Fitriani (9) mendorong Ustad Yusuf Mansyur ini untuk mengundang mereka.
Produser film Kun Fa Yakun meminta empat anak ini untuk menularkan kepiawaian mereka menghafal Asmaul Husna, Alquran 30 juz dan artinya serta pelajaran lainnya kepada para santrinya di Sekolah Daarul Quran Internasional (SDQI), Jalan Ketapang, Cipondoh, Banten. “Kita menginap di sana sejak 11 hingga 18 Februari untuk mengajarkan metode Hanifida.
Alhamdulillah pada 18 Februari malam, Aa Gym juga menyaksikan praktek menghafal ini,” ujar manajer Hanifida, Pito Sujatmiko, kepada detikcom, Jumat (20/2/2009). Apa komentarnya? “Luar biasa sekali,” ujar Pito menirukan ucapan Aa Gym dan Yusuf Mansyur. “Beliau mendukung dan beri apresiasi dan sosialisasi,” katanya. Empat anak ini juga laris diundang oleh ibu-ibu pengajian.
Pito menegaskan tidak memasang tarif untuk menyosialisasikan metode menghafal cepat mutakhir ini. “Seikhlasnya, minimal untuk transportasi dan akomodasi. Ada 4 buku paket yang harus dibeli seharga Rp 120 ribu,” ujar Pito. Pito mengatakan, empat anak itu akan beraksi lagi di Jakarta pada 16 Maret 2009. “Rencananya pada 28 dan 29 Maret, kita akan diundang lagi oleh Ustad Yusuf Mansyur yang kelima kalinya,” kata dia.
Ke depan, lanjut Pito, metode Hanifida menghafal Alquran dan aplikasi pelajaran sekolah dikembangkan melalui DVD dan VCD. “Metode ini punya kuda-kuda dan jurusnya, tidak monoton, enjoy dan tidak perlu mengernyitkan dada,” promosi Pito. Hanifida Sulap Anak Bak Komputer Metode Hanifida mengajarkan teknik menghafal cepat. Anak mampu menghafal Asmaul Husna, Alquran dan pelajaran di sekolah dalam waktu singkat. Metode inovatif ini dikembangkan oleh pasangan Hanifuddin Mahadun dan Kheirotul Idawati.
“Anak dapat menghafal apa pun dalam waktu cepat dan dapat menjawab setiap pertanyaan mengenai apa yang telah dihafalkan seperti komputer saja,” kata Hanif kepada detikcom di Klub Guru Jabodetabek, Jalan Jatipadang Nomor 23, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. “Dengan mempelajari metode ini, selain anak pandai menghafal Alquran, jago berhitung dan pintar di sekolah. Apalagi anak usia produktif kelas 3 sampai kelas 6 SD paling cepat mempelajari metode ini,” lanjut dia.
Dijelaskan dia, metode Hanifida mengoptimalkan kerja otak kiri sehingga ada keseimbangan otak kiri dan otak kanan. Akurasinya hingga 85 persen. “Kami mengajarkan ini kepada anak-anak kami, Kamila (6), dan Ahmad (12),” ujarnya. Menurut dia, tidak butuh waktu lama untuk bisa menguasai metode tersebut. “Kalau sudah menguasai metodenya maka dapat menghafal saat itu juga.
Kalau masalah biaya, hanya mengganti buku modul untuk menghafal Alquran dan Asmaul Husna. Harga 3 buku Rp 125 ribu. Kalau biaya mengajarkan seikhlasnya hanya infak saja,” beber dia. Jika Anda tertarik, modul ini bisa Anda peroleh di Klub Guru Jabodetabek. Anak Jombang Jadi Jenius Berkat Hanifida 4 Anak dari Jombang, Jawa Timur, mengundang decak kagum.
Mereka mampu menghafal Alquran 30 juz dan artinya. Bahkan mereka menghafal deretan angka secara acak dalam tempo 2 menit. Keempat anak itu adalah Ahmad Azmi Amiq (12), Rofi’ul Majid (14), Kamila Niami Permatasari (5,5), dan Putri Fitriani (9). Kejeniusan mereka tidak datang sendiri.
Melainkan berkat metode menghafal Hanifida. Butuh waktu 1 bulan untuk menjadi jenius berkat metode belajar inovatif ini.Metode Hanifida ini dikembangkan oleh pasutri Hanif dan Ida yang terilhami pemegang Rekor Pertama Daya Ingat MURI Irwan Widiatmoko. Hanif dan Ida lantas mengembangkannya ke dalam ke dalam dunia religi yaitu menghafal cepat Asmaul Husna dan Alquran.
“Metode Hanifida dengan model file komputer ini melatih daya ingat permanen seperti menghafal Asmaul Husna dan Alquran 30 juz selama 1 bulan lebih,” kata manajer Hanifida, Pito Sujatmiko, kepada detikcom, Jumat (20/2/2009). Menurut dia, berkat belajar dengan teknik Hanifida, empat anak asal Jombang itu mampu menyebut surat-surat Alquran, ayat-ayatnya dan artinya.
“Misalnya, surat Al Ikhlas ayat 3. Azmi dapat menyebutkan lafal dan artinya. Kalau mengingat secara manual kan kadang menyebut dari awal surat, tetapi ini langsung disebutkan,” ujar Pito. Selain menghafal Alquran, lanjut Pito, keempat anak itu mampu menyebut deretan angka hingga 100 dan menghafal materi pelajaran di sekolah. “Caranya misalnya, kita menulis angka acak masing-masing 10 angka dan dibuat 10 baris.
Lalu tulisan itu kita serahkan kepada si anak untuk menghafalnya selama 2 menit. Setelah itu tulisan angka kita ambil lagi. Kemudian kita meminta si anak menyebut angka pada kolom atau baris tertentu yang kita inginkan. Si anak mampu menjawab dengan benar,” beber Pito.
Menurut dia, keempat anak itu mampu menghafal angka mundur dari belakang hingga ke depan, dari kolom atas hingga bawah secara acak. Pembaca detikcom, Habe Arifin, mengaku telah menyaksikan presentasi 4 bocah itu. “Mengagumkan banget, mereka jenius karena belajar tidak datang mendadak seperti Ponari,” komentarnya. Bocah TK Hafal Asmaul Husna dan Surat Pendek Dalam gendongan sang bunda, Kamila Permatasari (6) bergelayut manja.
Meski agak malu-malu, dia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan untuk menguji metode Hanifida yang diajarkan ibunya. Dengan cepat, dia menjawab urutan Asmaul Husna dan surat pendek Alquran beserta artinya saat ditanya secara acak. “Sebutkan Asmaul Husna yang ke-50,” tanya sang bunda, Khairotul Idawati. “Asy Syahidu artinya yang Maha Menyaksikan,” sahut Kamila.
“Asmaul Husna ke-10,” tanya Idawati. “Al Mutakabbir artinya yang memiliki kebesaran,” jawab bocah perempuan yang mengenakan baju warna kuning ini. “Asmaul Husna yang terakhir,” tanya Idawati lagi. “Asy Shaburu artinya yang maha penyabar,” jawab Kamila. Tidak hanya Asmaul Husna, Kamila pintar menghafal sebagian besar ayat-ayat dalam surat pendek Alquran beserta artinya. “Saya ngajari Kamila metode Hanifida dengan buku-buku ini sepulang sekolah. Kamila pemalu, kadang kalau ditanya orang nggak mau menjawab,” tutur Idawati.
Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.
Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran.
Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali. 2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali. 3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali. 4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali 5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali. 6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali. 7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali. 8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali. 9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali. 10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali. 11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya. Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya. .
JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA? Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu.
Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas. . BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU? Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal.
Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz.
Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz.
Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya.
Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua. BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS? Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari.
Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu. Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.
APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN? Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.
Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab: “Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578). Maksudnya: -Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”. -Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”. -Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”. -Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”. -Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”. -Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”. Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata: . Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka: - Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah. - Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah. - Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
- Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`. - Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`. - Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat. - Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas. Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.
BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.
BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:
1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah. 2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah. 3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas. 4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya. 5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang. [Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi] Sumber: al-atsariyyah.com