Mari Menghafal Alquran

Mari Menghafal Alquran karena Alquran akan memberi syafaat di Hari Kiamat nanti

Ayo Menghafal Alquran

Sebaik-baik Kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya

Belajar Alquran Yukkk

Hiasilah rumahmu dengan bacaan Alquran

Menghafal Alquran Yuuuuk

Hiasilah lisanmu dengan dzikir dan membaca Alquran

Mari Menghafal Alquran

Hiasilah lisanmu dengan dzikir dan membaca Alquran

Ayo Menghafal Alquran

Hiasilah lisanmu dengan dzikir dan membaca Alquran

Ayo Menghafal Alquran

Mari Menghafal Alquran karena Alquran akan memberi syafaat di Hari Kiamat nanti

Ayo Menghafal Alquran

Mari Menghafal Alquran karena Alquran akan memberi syafaat di Hari Kiamat nanti

Ayo Menghafal Alquran

Mari Menghafal Alquran karena Alquran akan memberi syafaat di Hari Kiamat nanti

Ayo Menghafal Alquran

Mari Menghafal Alquran karena Alquran akan memberi syafaat di Hari Kiamat nanti.

Ayo Menghafal Alquran

Mari Menghafal Alquran karena Alquran akan memberi syafaat di Hari Kiamat nanti..

Ayo Menghafal Alquran

Mari Menghafal Alquran karena Alquran akan memberi syafaat di Hari Kiamat nanti..

Showing posts with label Ibrah. Show all posts
Showing posts with label Ibrah. Show all posts

Tuesday, May 10, 2011

Keistimewaan Alquran

Al-Qur’an memiliki keistimewaan-keistimewaan yang membedakan dengan kitab-kitab sebelumnya diantaranya ialah:

* Al-Qur’an merupakan kitab yang syamil yang mencakup seluruh ajaran Tuhan yang ada pada kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Taurat, Injil, dan Zabur) dan lain-lain. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah:48 “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”.

Pada ayat di atas disebutkan bahwa Allah swt memerintahkan kepada nabi supaya dalam memutuskan segala persoalan yang timbul di antara seluruh umat manusia ini dengan menggunakan hukum dari al-Qur’an, baik orang-orang yang beragama Islam atau pun golongan ahlul kitab (kaum Nasrani dan Yahudi) dan jangan sampai mengikuti hawa nafsu mereka sendiri saja.

Dijelaskan pula bahwa setiap umat oleh Allah swt. diberikan syariat dan jalan dalam hukum-hukum amaliah yang sesuai dengan persiapan serta kemampuan mereka. Adapun yang berhubungan dengan persoalan akidah, ibadah, adab, sopan santun serta halal dan haram, juga yang ada hubungannya dengan sesuatu yang tidak akan berbeda karena perubahan masa dan tempat, maka semuanya dijadikan seragam dan hanya satu macam, sebagaimana yang tertera dalam agama-agama lain yang bersumber dari wahyu Allah swt. Allah berfirman dalam surat as-Syura:13

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”

* Ajaran-ajaran yang termuat dalam al-Qur’an adalah kalam Allah yang terakhir untuk memberikan petunjuk dan bimbingan yang benar kepada umat manusia, inilah yang dikehendaki oleh Allah supaya tetap sepanjang masa, kekal untuk selama-lamanya. Maka dari itu jagalah kitab al-Quran agar tidak dikotori oleh tangan-tangan yang hendak mengotori kesuciannya, hendak mengubah kemurniannya, hendak mengganti isi yang sebenarnya atau pun hendak menyusupkan sesuatu dari luar atau mengurangi kelengkapannya.Allah berfirman dalam surat fusshilat:41-42“Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.Dan juga firman-Nya dalam surat al-Hijr:9“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”Adapun tujuan menjaga dan melindungi al-Qur’an dari kebatilan, kepalsuan dan pengubahan tidak lain hanya agar supaya hujah Allah akan tetap tegak di hadapan seluruh manusia, sehingga Allah swt dapat mewarisi bumi ini dan siapa yang ada di atas permukaannya.

* Kitab Suci al-Qur’an yang dikehendaki oleh Allah akan kekekalannya, tidak mungkin pada suatu hari nanti akan terjadi bahwa suatu ilmu pengetahuan akan mencapai titik hakikat yang bertentangan dengan hakikat yang tercantum di dalam ayat al-Qur’an Sebabnya tidak lain karena al-Qur’an adalah firman Allah swt, sedang keadaan yang terjadi di dalam alam semesta ini semuanya merupakan ciptaan Allah swt pula. Dapat dipastikan bahwa firman dan amal perbuatan Allah tidak mungkin bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Bahkan yang dapat terjadi ialah bahwa yang satu akan membenarkan yang lain.

* Dari sudut inilah, maka kita menyaksikan sendiri betapa banyaknya kebenaran yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern ternyata sesuai dan cocok dengan apa yang terkandung dalam al-Qur’an. Jadi apa yang ditemukan adalah memperkokoh dan merealisir kebenaran dari apa yang sudah difirmankan oleh Allah swt. sendiri.Firman Allah dalam surat Fushilat:53“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

* Allah swt. berkehendak supaya kalimat-Nya disiarkan dan disampaikan kepada semua akal pikiran dan pendengaran, sehingga menjadi suatu kenyataan dan perbuatan. Kehendak semacam ini tidak mungkin berhasil, kecuali jika kalimat-kalimat itu sendiri benar-benar mudah diingat, dihafal serta dipahami. Oleh karena itu al-Qur’an sengaja diturunkan oleh Allah swt dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapapun untuk memahaminya dan tidak sukar pula mengamalkannya, asal disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat.

Saturday, April 23, 2011

Ijazah Gratis

ijazah ilmu inti asmaul husna (ya hayu,ya aliyu,yamaliyu,ya
wafiu,yawakiyu,yaqowiyu,yagoniyu,yawaliyu,yabaqi)
manfaat mendapatkan semua ilmu yang diiklankan di majalah dan paranormal serta
menyempurnakan ilmu yang telah dimiliki...

ijazah ilmu ayat kursi(ilmu tarekat tingkat tinggi)
manfaat mendapatkan kedudukan dan derajad bersama zat yang maha suci..merupakan
inti quran dan inti semua ilmu serta kitab2 terdahulu

ijazah ilmu 2 kalimah syahadat (ilmu hakikat islam dan jawa yang paling
sempurna)
manfaat menyempurnakan ilmu yang dimiliki,menjadi kekuatan ilahiyah,ilmu yang
ilahiyah dan amal yang amaliyah menuju khusnul khotimah,,,,

syarat puasa 3 hariii...(khusus untuk perempuan)

Friday, April 22, 2011

Menyikapi Rumus Ciptaan Tuhan

Sebagai insan yang terdidik,
seorang mahasiswa sangatlah paham dan mengerti apa sebenarnya subtansi dari
kata ‘hasil atau result(?) Meskipun tidak sedikit dari mereka –termasuk
penulis- yang belum bisa mendefinisakan kata tersebut dengan kalimat yang ‘pas’
dan apik. Sederhanya, ‘hasil’ bisa dikatakan sebuah pencapain akhir dari sebuah
aktivitas atau usaha. Dengan kata lain, hasil merupakan sebuah keadaan yang
terjadi
akibat keadaan (red: aktifitas, usaha dll.) yang terjadi sebelumnya.

Tuhan memang telah menetapkan
sebuah ‘rumus’ yang –mau tidak mau- harus dijalani oleh manusia di muka umi
ini, bahkan semua makhluk ciptaan-Nya. Sehingga dengan rumus tersebut, manusia
yang notabene adalah makhluk yang paling mulia –karena akalnya- bisa
merencanakan segala hal yang ingin dicapainya di hari esok. Selain itu, dengan
rumus tersebut, manusia –setidaknya- bisa menerima segala konsekuensi keadaan
hidup di dunia yang sedang dijalaninya, begitu juga keadaan kehidupan di
akhirat nanti setelah kontrak hidupnya di dunia telah habis. Rumus itu tidak
lain adalah ‘hukum sebab dan akibat’.

Manusia mengakui bahwa rumus yang
telah diciptakan oleh Tuhan ini memang selalu ‘terpraktekkan’ dalam
kehidupannya, baik disadari maupun tidak. Selanjutnya, akal yang telah
dianugerahkan kepada manusia yang memiliki fungsi sebagai ‘barometer’ dalam
menilai sebuah kebenaran juga tidak melihat adanya sedikit ‘kemlesetan’
dalam rumus ini. Ini mengindikasikan bahwa rumus ciptaan Tuhan ini mempunyai
nilai validitas yang paten. Meski di samping itu, tidak sedikit fenomena yang
terjadi di kehidupan ini dan nalar manusia tidak bisa menaruhkan rumus ini dalam
fenomena tersebut. Hal semacam ini sebenarnya tidak menunjukkan bahwa rumu
tersebut
tergores validitasnya. Akan tetapi, lebih kepada nalar manusaialah yang masih
belum bisa mencapai sisi rahasia di balik fenomena tersebut. Karena manusia
yang notabene adalah sang pemilik nalar itu sendiri telah mengakui bahwa nalar
yang dimilikinya mempunyai keterbatasan dalam melihat dan menganalisa sebuah
fenomena kehidupan.

Amalan Sederhana

Amalan Yang Sederhana

"Innamaa amruhuu idzaa arada say'an 'an yakulalahu kun fayakun" Sesungguhnya
keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:
"Jadilah!" maka terjadilah ia. Dunia seperti berputar dalam sekejab. Ayah yang
tadinya seorang yang mempunyai jabatan kepala cabang disebuah perusahaan swasta
dengan berbagai fasilitas mendadak berhenti bekerja. Perusahaannya bangkrut.
Anak-anaknya dahulu telah terbiasa hidup dalam kemapanan untuk ukuran sebuah
kabupaten. Hal ini membuat ayah berpikir panjang dan ayah seperti ingin
mendidik kami dengan memulai semuanya dari awal. Kami berangkat ke ibu kota
tanpa membawa bekal apapun. Rumah beserta isinya dititipkan ayah kepada paman.

Dikota kami mengontrak pada sebuah rumah tiga petak, ukuran standard kontrakan
di ibu kota. Beberapa waktu berjalan kehidupan kami tidak berubah, sisa uang
pesangon tidak bisa bertahan lama. Hari itu aku melihat ayah berpakaian sangat
rapi, seperti orang yang sedang berangkat kerja kekantor. Awalnya aku senang
karena akan bisa membeli ini dan itu yang aku mau, apalagi aku akan naik kelas
lima begitu juga dengan tiga orang adiku. Ayah selalu berangkat setelah sholat
subuh dan pulang setelah larut malam. " Tidak banyak yang bisa di peroleh hari
ini bu " desah ayah kepada ibu. Mereka mengira semua anaknya telah tidur, tapi
masih terjaga meski tetap dalam keadaan terbaring dan membelakangi mereka. Aku
bertekad membantu mereka, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan ku sendiri.

Keesokan harinya aku berjualan koran di terminal bis pulo gadung dan terkadang
pindah keterminal lain karena di terminallah tempat paling ramai pembeli. Hasil
dari jualan koran aku tabung untuk biaya sekolah dan beli buku yang sering di
suruh oleh ibu guru. Suatu hari secara tidak terduga aku melihat ayah di
terminal kampung melayu. Dia menjadi sopir mikrolet jurusan gandaria. Aku tidak
mengerti mengapa ayah memilih perkerjaan ini mungkin juga karena ijzahnya cuma
sampai tingkat SMU tetapi Dia mempunyai pengalaman hampir dua puluh tahun
berkerja dikantor dan sempat beberapa tahun menjabat sebagai kepala cabang,
mengapa tidak dia gunakan ?. Entahlah, yang jelas hari itu aku marasa kasihan
dengan perubahan hampir seratus delapan puluh derajat. " Bu, ibu mau kemana ?"
tanyaku pada seorang ibu di ujung jalan agar ayah tidak melihatku " ke Gandaria
memang kenapa tanya-tanya" jawab ibu itu penasaran. " Ibu naik antrian paling
belakang saja ya bu, tolong" pinta saya pada ibu itu. " Loh memangnya kenapa ?
bukannya malah jadi lama" ibu itu semakin penasaran", aku hanya tertunduk "
Karena angkutan itu yang membawa adalah ayahku" jawabku dengan pelan. Begitulah
terus aku bertanya kepada setiap orang yang lewat. Aku ingin angkutan ayahku
selalu penuh agar ayahku senang.

Malam harinya ayahku mendapat laporan dari ibu yang di beritahu oleh teman
bahwa aku tidak masuk sekolah hari itu. Ayah memukul kakiku karena dikira sibuk
bermain seharian sampai lupa sekolah, aku tidak peduli, aku tetap bahagia
karena telah bisa membantu ayah. Beberapa tahun berlalu aku tidak berubah
menjadi orang hebat seperti di banyak buku. Aku hanyalah pegawai kecil pada
sebuah perusahan kecil di Jakarta. Sewaktu ibuku meninggal dunia, aku berusaha
merawat ayahku sebaik-baiknya beserta adik-adiku yang mulai bisa mandiri. Mata
Ryan masih basah mengenang perjalanan hidupnya. Masjid memang tempat
bersilaturahmi paling layak bagi sesama muslim. Saling nasehat menasehati agar
kita bisa tetap dijalanNya.

Mungkin karena sering di pukul oleh ayahnya dulu , kaki Ryan tampak agak
pincang ketika berjalan entahlah yang jelas hampir setiap hari dengan berjalan
terbata-bata ia memapah ayahnya kemasjid untuk sholat berjamaah atau
berkeliling komplek pada pagi hari menghirup udara segar ciptaan Tuhan. Mungkin
tipe orang seperti Ryan bukanlah tipe orang seperti Abdurrahman bin Auf yang
rajin bersedekah dengan hartanya atau Utsman bin Affan yang juga pengusaha atau
sahabat yang punya amalan hebat seperti Abu Bakar As siddiq dan Umar bin
Khattab. Mungkin gambaran sederhana yang bisa disandingkan hanyalah Uwais Al
Qarni , sosok pemuda yang pernah dimintai doa oleh Ali ra dan Umar ra atas
perintah dari Rasulullah, padahal dua orang sahabat itu sudah dijamin masuk
syurga.

Wednesday, April 20, 2011

Nasehat Dari Anak-Anak Yang Tegar

Lama anak saya memandang kearah wajah saya yang sedang menonton berita pagi di
televisi. Dia tidak perduli dengan apa yang terjadi pada kotak ajaib tersebut.
" Yah kok mata ayah berair , ayah nangis yah..?" tanyanya penuh selidik. Saya
tidak berusaha menjawab, tapi memeluknya sambil mendudukannya di pangkuan. "
Anak yang bernama Tegar itu harus tegar menghadapi dunia, menerima tanpa harus
mengerti kebencian ayah tirinya yang menyebabkan kakinya terputus setelah di
lindas oleh kereta api" kata pembawa acara di televisi. Sang ayah akhirnya di
ganjar hukuman sepuluh tahun penjara sedangkan sang anak yang masih berumur
empat tahun akan menanggung penderitaan tersebut seumur hidupnya.

Berbanding terbalik di Facebook saya mendapat kiriman berita lama yang di rekam
lalu di sebar melalui media internet tentang seorang anak yang berusia enam
tahun yang mengurusi semua keperluan ibunya mulai dari memasak, menyuapi ,
memandikan bahkan membuang kotoran ibunya karena sejak dua tahun yang lalu si
ibu mengalami kelumpuhan karena terjatuh. Ayah sianak telah lama tidak pulang
kerumah setelah beberapa tahun yang lalu pergi merantau ke Malaysia. Anak itu
bernama Sinar dan hari itu, sinar sianak tersebut telah menyilaukan mata saya
dengan amalnya, dengan cintanya dan dengan kasih sayang untuk ibunya.

Banyak para orang tua yang berharap bisa melahirkan seorang anak, tetapi tidak
ada seorang anakpun yang meminta untuk dilahirkan, dia murni amanah dari Allah
Subhanahu Wa Ta'ala. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW mengatakan bahwa
Warisan bagi Allah 'Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya
yang beribadah kepada Allah sesudahnya. hadist ini di riwayatkan oleh HR.
Ath-Thahawi. Namun Rasulullah juga menasehati yang diriwayatkan oleh Ibu
'Asakir bahwa anak bisa menyebabkan kedua orangtuanya menjadi kikir dan
penakut. Pemenuhan masalah ekonomi memang menjadi salah satu penyebab
kerenggangan didalam sebuah rumah tangga, baik itu dengan anak karena jarang
berkomunikasi maupun dengan istri atau suami karena tuntutan-tuntutan yang
diluar jangkauan.

Sesuatu yang memisahkan dan membedakan antara seorang anak dengan orang dewasa
adalah waktu, sesuatu yang Allah pernah bersumpah atas namanya, bahwa kita
berada dalam sebuah kondisi yang menyebabkan kita merugi kecuali orang yang
beramal salih, al 'amilussholikhat. Kita adalah mantan anak-anak, sedangkan
anak-anak adalah calon orang dewasa. Kesalahan sekecil apapun yang pernah kita
lakukan pada masa kecil tidak layak kita wariskan kepada anak kita. Ukiran
kebaikan orang tua yang tertanam didada kita harus kita buat lebih indah didada
anak-anak kita. Melihat senyum tegar dengan kakinya buntung seperti ingin
berteriak kepada saya " Tidak ada gunanya memberitahukan orang lain tentang
kesulitan anda , sebagian dari mereka tidak perduli dan sebagian lagi justru
senang mendengarkan keluhan anda tanpa mau berbuat apa-apa, tegarlah dan
sandarkan hidup hanya kepada Allah"

Tuesday, April 19, 2011

Pelajaran Yang Tidak Pernah Selesai

"Berburu kepadang datar, dapat rusa belang kaki, berguru kepalang ajar bagai
bunga kembang tak jadi". Terhirup aroma ilmu yang menyambangi pagi dari di
balik dinding-dinding merah putih yang semakin lama semakin tampak tak putih
lagi. Semua murid menatap Pak guru dengan khidmat, menunggu terjadinya
perpindahan ilmu, menerima segala nasehat-nasehat yang membuat mereka terpaku.
"Meraih bintang itu tidak mudah anakku, selalu ada bekal yang mesti di
persiapkan, rajin-rajinlah kalian membuka mata dan telinga untuk membaca segala
gejala pada alam semesta agar kita bisa mengerti bahwa mereka di ciptakan untuk
kita syukuri".

Tidak jauh dari sekolah kecil itu, seorang anak di pinggir kali, menumpuk
buku-bukunya diatas rumput. " oooiiii Aman kamu tidak sekolah !!" terdengar
suara teriakan seorang bapak dari tengah-tengah sawah di seberang kali " Tidak
Pak, aku mau bantu Bapak saja di sawah" jawab anak itu sambil buka baju dan
menumpuknya diatas buku. Anak itu kemudian menghampiri ayahnya yang sedang
mencangkul. " Mengapa kamu tidak sekolah Man, kamu bisa bodoh nanti " tanya
sang ayah penasaran. " Belajarkan bisa dimana saja Pak tidak harus di sekolah,
kata guru ngaji semalam yang menyelamatkan kita nanti di akhirat itu adalah
amal bukan ilmu" jawab Aman membela diri. Sang ayah berhenti mencangkul
mendengar bantahan anaknya " Setiap amalan itu harus berdasarkan ilmu nak,
Rasulullah sendiri memerintahkan kita untuk menuntut ilmu agar kita bisa
membedakan mana yang haq dan mana yang batil, mana yang bermanfaat dan mana
yang merugikan" kata ayahnya sambil memegang dada, seperti orang kesakitan.
Aman diam saja sambil terus mencangkul menggemburkan tanah yang akan ditanami.
Anak yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar itu terus berfikir apakah
nasib keluarganya akan berubah hanya karena merubah status dari tidak tahu
menjadi tahu, atau dari tidak paham menjadi paham ? seperti apa manfaatnya
mengetahui bahwa bumi mengelilingi matahari dengan apa yang bisa dia makan esok
hari.

Walaupun konsumsi perut dan kepala berbeda tetapi banyak juga orang membuat
keterkaitan satu sama lain. Para koruptor yang tergolong orang yang
berpendidikan dan memiliki pengetahuan yang cukup telah mengakomodasi seluruh
isi kepalanya untuk menuruti kemauan perutnya. Untuk pintar seseorang memang
harus sekolah, tetapi apa yang didapat setelah predikat pintar disandang, tentu
saja lebih dari sekedar mencari nasi tetapi juga tawaran dari berbagai posisi.
Tidak bisa di pungkiri lebih dari sembilan puluh persen tujuan akhir sekolah
adalah pencapaian materi, dan hanya sedikit yang menyisakan kepintaran untuk
sebuah dedikasi.

Ketika Aman pulang dari sawah siang harinya, dia berpapasan dengan Pak guru
yang pulang mengajar. Pak guru menanyakan mengapa Aman tidak masuk sekolah hari
itu, tapi Aman malah bertanya balik kepada Pak guru tersebut " Mengapa kita
harus belajar di sekolah Pak, bukankah ketika kita belajar ilmu pengetahuan
alam kita harus berada di alam terbuka agar kita tidak hanya sekedar mengetahui
tetapi juga memahami cara kerja alam semesta, ketika kita belajar ilmu sosial
maka kita harus berada di masyrakat dan menerapkan nilai sosial secara langsung
" . Pak guru hanya tersenyum mendengar nalar kritis dari muridnya " Benar Aman,
tapi semuanya mempunyai wadah. Tidak mungkin kita mengumpulkan semua murid di
pasar hanya untuk tahu ilmu pemasaran, Untuk mengetahui sesuatupun ada
prosesnya. Kita juga tidak bisa menggiring setiap orang pada apa yang kita
mau." Kata Pak guru tidak mau memperlebar masalah karena sekolah memang tempat
dibeku dan dibakukannya ilmu agar mudah disampaikan, tugas sang muridlah nanti
yang mencairkan dan menuangnya pada tempat yang diinginkan.

Pada malam harinya di pengajian ba'da maghrib Aman semakin di perkuat dengan
cerita dari guru ngaji yang diambil dari matsnawi Jalaludin Rumi. Dikisahkan
sorang petani yang hendak membawa sekarung gandum kepasar kesusahan
menyeimbangkan beban di punggung keledai miliknya dan untuk menyeimbangkannya
dia mengambil sekarung pasir untuk di letaknya disisi yang lain. Petani
tersebut pergi kepasar dengan memakan waktu lebih lama dari biasanya karena
beban yang ada pada keledai terlalu berat. Sewaktu beristirahat petani tersebut
bertemu dengan seorang yang berpakaian compang- camping mirip seorang pengemis
tetapi orangtersebut tidak mau disebut pengemis. Setelah berdialog dengannya,
petani tersebut sangat kagum dengan ketinggian ilmu dari orang tersebut. Salah
satu dari nasehat dari orang itu mengatakan bahwa beban yang diderita keledai
bisa di peringan dengan membagi dua gandum sehingga separuh disebelah kiri dan
sebelah lagi disebelah kanan dan bukan mengganti dengan pasir yang justru
memperberat beban keledai sehingga keledai tersebut berjalan dengan lambat.

"Kisanak sangat cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas, sebenarnya apa
pekerjaan kisanank ?" kata petani tersebut penasaran dengan kehebatan orang
didepannya. " Saya tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, saya melangkah kemanapun
kaki saya mau" jawab orang tersebut acuh-tak acuh. " Lalu bagaimana dengan
keperluan sehari-hari seperti makan dan minum ?" tanya petani tersebut
penasaran. " Aku tidak pernah meminta tapi jika ada yang memberi aku terima
jika tidak maka aku akan puasa" jawab orang itu. Kemudian tanpa basa basi
petani tersebut pergi meninggalkan orang tadi. " Aku bisa saja bodoh tapi aku
mampu menghidupi diriku sedangkan kepandaianmu tidak berpengaruh apa-apa
terhadap dirimu, aku tidak suka medekati orang malas sepertimu" kata petani
tersebut dari jauh.

Aman menyimak dengan serius cerita dari guru ngajinya. "Anak-anaku hikmah yang
mesti diambil adalah bahwa banyak diantara kita yang berilmu tetapi ilmu itu
tidak bermanfaat baginya selain sebagai kebanggaan semata. Ada orang yang
mempunyai pemahaman agama yang sangat tinggi tapi ahlaknya tidak mencerminkan
apa yang telah dia pahami. Ada juga yang memiliki ilmu tetapi tidak tahu
bagaimana memanfaatkan ilmu tersebut seperti banyak sarjana yang dilahirkan
bangsa ini. Ada juga yang tidak berilmu tetapi dia di wakili oleh selembar
kertas yang mengatakan kalau dia berilmu, padahal tidak, dia sekolah hanya
untuk selembar kertas tersebut. Oleh sebab itu hati-hatilah anakku setiap apa
yang kita kerjaan akan dimintai pertanggung jawaban nanti oleh Allah SWT, apa
yang bapak ceritakan bukan membuat kalian jadi tidak mau sekolah untuk menuntut
ilmu, jangan jadikan kelemahan orang lain menjadi penghalang bagi kita untuk
berusaha, kita justru harus membuatnya berbeda" kata guru tersebut sambil
menutup kitab fiqih yang telah dikaji terlebih dahulu sebelum bercerita kepada
murid-muridnya.

Aman terdiam merenung dirumah, banyak orang yang salah kaprah dalam
memanfaatkan ilmu termasuk cerita lucu dari temannya yang ditugaskan pak guru
untuk mengganti tiang bendera yang patah " Nang tolong ukur dulu tinggi tiang
lama ya biar tidak kerja dua kali" kata pak guru kepada Nanang temannya. Nanang
lalu memanjat ting itu untuk mengukurnya." Kenapa harus naik Nang ? nanti jadi
patah lagi, cabut aja terus ukur di bawah" kata pak guru. " Loh tadi kan pak
guru menyuruh saya mengukur tinggi tiang bendera bukan panjang tiang " jawab
Nanang asal kena. Dalam matematika panjang dan tinggi hanya dibedakan oleh
posisi yang satu horisontal yang satu vertikal, tapi ketika jadi rumus kenapa
nampak begitu susah bagi anak-anak. Apakah pintar itu indentik dengan kesulitan
? pasti ada yang salah, pikir Aman.

Beberapa tahun kemudian setelah menamatkan kuliah di ITB bandung, Aman
mendedikasikan dirinya sebagai guru di kampung halaman tercinta dengan metode
penyederhanan, bahwa sehebat apapun masalah harus disederhanakan terlebih
dahulu untuk kemudian di pecahkan. Aman mendirikan sekolah Alam yang mengajak
murid-muridnya tidak hanya menerpkan prinsip 5W1H pada perbuatan tapi juga pada
pemikiran, bahwa apapun yang dipelajari harus bisa bermanfaat bagi diri maupun
orang lain. Hasilnya beberapa orang muridnya berhasil menduduki peringkat
tertinggi sekabupaten.